10 November 2008

Pidana mati bagi Amrozi,Cs

Sabtu, 8 Nopember 2008, 00.15 WIB telah dilakukan ekskusi bagi tiga terpidana mati kasus bom Bali. Ekskusi ini dilakukan sebagai hukuman atas peristiwa bom Bali yang telah disangkakan kepada Amrozi, Imam Samudera dan Mukhlas agar menjadikan efek jera terhadap yang lainnya dan agar tindakan serupa tidak terulang lagi di kemudian hari. Apa yang sebenarnya terjadi di Kuta pada malam itu? Bagaimana Amrozi Cs mendapatkan TNT jenis tersebut yang hanya di miliki oleh USA dan Inggris? Bagaimana hubungan Amrozi Cs dengan Agen Inggris? Mata rantai tersebut kini telah putus seiring dengan tewasnya ketiga orang yang disangkakan sebagai pelaku tersebut. Ada hal-hal yang harus dicermati oleh Indonesia Raya, yakni, bahwa, Para pelaku teror sekelas Amrozi Cs, mati bukan merupakan sesuatu yang menakutkan, bahkan mati merupakan tujuan bagi mereka sebab mereka menganggap mati sahid. Artinya keyakinan tidak dapat dikalahkan dengan kekerasan dan ingat sanksi hukuman mati yang telah dijatuhkan kepada ketiganya hanya akan menimbulkan kebencian para pengikutnya yang tidak sedikit dan mereka juga bagian dari warga negara Indonesia. Penerapan hukuman mati tersebut juga hanya akan menimbulkan semangat di tengah-tengah para pengikut Amrozi Cs. Sekali lagi keyakinan itu kuat, tidak dapat diukur dengan tiang gantungan. Langkah yang paling efektif adalah langkah pendekatan dan pengawasan melalui Badan yang dibentuk oleh pemerintah. Dan ingat juga bahwa Indonesia mempunyai Indera Waskita.

Sawit Anjlok

Nasib para petani sawit kian tidak jelas setelah harga sawit anjlok. Menurut salah satu petani yang berhasil saya wawancarai, harga tersebut akibat distopnya ekspor CPO, dan salah satu negara pengimpor terbesar adalah USA. Anjloknya harga sawit juga mempengaruhi ekonomi rakyat non petani sawit. Para petani sawit yang dulunya memperkerjakan para tenaga harian lepaspun kini telah banyak dikurangi dengan alasan tidak bisa membayar gaji para buruh. Adapun anjloknya harga sawit tersebut dari harga Rp. 1.800,- menjadi Rp. 300,- menjadikan kondisi para petani sawit khususnya dan masyarakat pada umumnya semakin terjepit. Kondisi ini kami dapati dibeberapa daerah di Riau yaitu wilayah Bagan Batu, Duri, Dumai dan sebagian wilayah di Sumatera Utara, yakni Tanjung Balai Asahan dan Kisaran. Demikian laporan sementara R.Gatot Koco, pada tanggal 10 Nopember 2008.

15 Oktober 2008

Si Fakir dan Si Bakhil

Oleh : Dedy Suyanto

Aidil Fitri telah 15 hari berlalu, masih terngiang dalam pikiran kita betapa meriahnya orang menyambutnya hari kemenangan itu. Kemenangan untuk siapa, tentu kemenangan bagi mereka yang sebulan penuh telah menjalankan puasa dengan penuh ikhlas dan sabar. Namun mendadak sejak hari minus 7 Aidil fitri situasi disibukkan dengan pastel dan THR (tunjangan hari raya) baik dikantor-kantor pemerintah maupun swasta bahkan mewabah sampai pada khalayak ramai. Masyarakat umum juga tak kalah hebohnya meminta THR (uang saku lebaran) dan minuman dari berbagai merk kepada pejabat-pejabat pemerintah, anggota legislatif, pengusaha dan kepada orang-orang yang dianggap kaya. Dan anehnya dari sekian banyak orang yang meminta uang lebaran tersebut tidak semua orang dapat dikategorikan orang yang membutuhkan, banyak orang yang berada dan berkecukupan juga melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh para kaum dhuafa.

Walhasil banyak pejabat-pejabat yang menghilang tanpa pesan menjelang lebaran, dengan alasan pulang kampung atau berhari raya dengan sanak kerabat di luar kota. Bahkan ada yang rela merayakan Aidil Fitri hanya di kamar hotel bersama keluarganya, hal tersebut dilakukan hanya untuk menghindari dari banyaknya orang yang berkerumun untuk meminta uang lebaran dan minuman. Mereka akan kembali ke rumah biasanya hari plus 4 lebaran atau apabila situasi dirasa agak 'dingin'.

Ini merupakan penyakit kambuhan atau musiman yang setiap kali akan datang dan mewabah pada saat-saat menjelang Aidil Fitri (lebaran). Untuk Aidil Fitri yang akan datang apabila Allah menghendaki kita menjumpainya lagi, sebaiknya kita perhatikan salah satu terjemah hadits shahih di bawah ini ;

"Barang siapa yang meminta-minta kepada manusia dengan tujuan untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya ia seperti meminta bara api, maka mintalah bara api itu dalam jumlah sedikit atau banyak."
(HR.Muslim).

Aidil fitri hendaknya menjadi momentum untuk mempererat hubungan silaturrahmi antar sesama, baik si-miskin ataupun si-kaya. Harus ditumbuhkan kesadaran diri pada umat untuk tidak menjadi peminta-minta, sebab zakat, sedekah, hibah sudah ada ketentuannya siapa-siapa yang berhak menerima, bukan meminta.

Kesadaran serupa juga hendaknya dimiliki oleh para hartawan untuk secepatnya memberikan zakat dan sedekahnya kepada yang memerlukan, sebab belum tentu kedepannya dapat memberikan sedekahnya bahkan bisa-bisa terbalik keadaannya. Nilai 10 ribu rupiah atau 100 ribu rupiah tidak berarti apa-apa bagi orang yang berlimpah harta, namun sangat banyak manfaatnya bila berada di tangan orang yang berhak menerimanya yaitu fakir miskin, anak-anak terlantar, kaum dhuafa.

"Bersedekahlah kamu, maka nanti akan datang satu zaman yang akan kamu jumpai yaitu : seorang laki-laki sedang berjalan membawa sedekahnya. Maka berkatalah orang yang akan diberikan zakatnya : Jika kamu datang kemarin maka aku akan dapat menerimanya, tetapi sekarang aku tidak membutuhkan hartamu itu. Maka orang yang akan memberikan sedekahnya (zakatnya) itu tidak mendapati orang yang akan menerima sedekahnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat (sedekah) dalam harta benda kaum muslimin, yang diambil dari mereka yang kaya lalu diserahkan kepada fakir miskin dari mereka."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Baiklah kita cermati kembali kisah seorang saudara sepupu Nabi Musa As yang bernama Qarun yang berlimpahan harta benda dimasa itu yang diceritakan al-Quran di bawah ini.

"'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku'. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanyakan kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka."
(QS. al-Qasas 78).
"Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)."
(QS. al-Qasas 81).
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Mukhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Quran). Barang siapa yang berpaling dari al-Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat."
(QS. Taha 99 dan 100)

Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi peminta-minta dan Islam juga tidak mengajarkan kesombongan terhadap harta kekayaan. Dan ingat !!! Allah benar-benar akan membenamkan orang-orang yang congkak dan sombong terhadap hartanya, sebagaimana Allah telah pernah membenamkan Qarun beserta harta bendanya. Semoga Allah menjaga kita dari sifat angkuh dan sombong dan memelihara diri kita agar tidak menjadi peminta-minta. Hanya kepada Allah dan Rasul-Nya saya mohon ampun dari dosa lidah, anggauta badan dan fikiran. Hanya Allah yang mengetahui dari apa-apa yang ada di langit dan di bumi.

27 September 2008

Sebagian kecil hikmah yang dapat dipetik dari sebulan berramadhan.

Oleh : Dedy Suyanto.

Ketaqwaan
Dibulan Ramadhan yang juga populer disebut bulan puasa sangat berpotensi untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Hal ini dibuktikan oleh ramainya mesjid-mesjid, mushalla, langgar dan tempat ibadah bagi umat Islam lainnya tatkala datangnya bulan puasa. Artinya sebagian mayoritas muslim dunia menyambut dengan antusias datangnya bulan puasa. Mesjid-mesjid yang pada hari-hari biasa hanya dijumpai lebih kurang 5 sampai dengan 10 jemaah, ketika masuk bulan puasa menjadi meningkat drastis.

Kejujuran dan kedisiplinan.
Bulan puasa memiliki potensi untuk meningkatkan kejujuran dan kedisiplinan bagi seorang mukmin yang dengan sungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa. Seseorang yang dengan sungguh-sungguh melaksanakan ibadah puasa, ianya tidak akan makan atau minum walaupun pada saat ditempat sepi dan sendiri sekalipun, hal ini menunjukkan bahwa puasa mendidik jiwa seseorang untuk berlaku jujur walaupun tiada orang yang melihatnya, karena seorang mukmin hanya takut kepada yang khaliq. Begitu pula pada saat berbuka, seseorang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa tidak akan mendahului waktu berbuka walaupun hanya satu detik, ini menunjukkan bahwa ibadah puasa memiliki potensi untuk mendidik kedisiplinan diri seseorang.

Berwibawa dan Bijaksana
Bulan ramadhan juga mencetak manusia-manusia yang berwibawa dan bijaksana, hal ini dibuktikan bagi seseorang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa akan bersikap hati-hati dalam berbicara dan bertindak. Karena seseorang yang sedang melaksanakan ibadah puasa tidak dibenarkan bicara kasar, marah-marah, mencaci, menyinggung perasaan sesama.

Malu.
Potensi ini sebenarnya yang harus dimiliki oleh setiap umat islam saat ini, karena hilangnya rasa malu akan menimbulkan kehancuran dalam tatanan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kalau kita bertanya dalam hati kecil kita, bagaimana perasaan kita apabila kita tidak berpuasa? Jawaban yang muncul pertama kali adalah malu pada teman, tetangga, bos, mertua dan sebagainya jarang yang sadar malu kepada Allah swt. Demikian krisisnya malu kepada sang pencipta ini maka Ramadhan hadir untuk memperbaiki itu semua, karena apabila rasa malu ini terutama malu kepada Allah swt telah kita miliki maka insyaallah terwujudlah baldatun thayyibun warabbun ghafur.

Bisnis.
Ramadhan juga mendidik untuk berusaha, dan tidak bermalas-malasan, hal ini dapat ditunjukkan betapa ramainya orang berbisnis pada saat bulan ramadhan tiba, seperti jualan tajil untuk berbuka, jualan pakaian menjelang hari raya dan lain sebagainya. Singkat cerita Ramadhan bulan yang berpotensi untuk berwirausaha yang dihalalkan oleh Allah swt, sepanjang dilakukan sesuai dengan syariat Islam.
Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung didalam bulan suci ini apabila kita mau merenungi dan mensyukurinya. Namun demikian ada beberapa hal yang harus dihindari, karena Ramadhan juga berpotensi sebagai ajang politik praktis, KKN, Anarkisme.

Politik Praktis.
Pada Ramadhan 1429 H yang baru saja kita jalani ini telah nampak dengan jelas bahwa suasana Ramadhan diwarnai juga dengan suasana, warna dan corak politik demokrasi dinegeri kita. Mesjid-mesjid tidak luput dari objek dari kampanye politik, spanduk partai, spanduk caleg, sepanduk cagub ramai mewarnai beberapa mesjid di tanah air kita. Hal ini hanya akan menunjukkan ketidak murniannya pelaksanaan ibadah di bulan suci. Berdalih hanya sebatas mengucapkan 'SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA' / 'SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI' ini merupakan senjata strategis bagi para pelaku politik di tanah air.

KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
Ramadhan juga berpotensi untuk praktik KKN, sebab disana banyak tersebarnya beberapa pastel dan bingkisan hari raya bagi para pejabat dan orang-orang penting dinegri ini, berdalih mengucapkan selamat hari raya merupaka jurus yang amam untuk mengambil hati dan simpati para pejabat maupun rakyat. Bantuan-bantuan yang tidak pernah ada diluar ramadhan juga ramai mengalir pada saat bulan ramadhan ini biasanya diberikan oleh salah satu pasangan calon baik calon legislatif maupun ekskutif. Ironis memang, karena bulan yang begitu indah, bulan yang suci, dikotori dengan beraneka ragam perbuatan yang mengharapkan pamrih.

Anarkisme.
Potensi anarkisme besar peluangnya mewarnai bulan suci ini, seperti yang dapat kita saksikan dibeberapa daerah lewat siaran berita baik di radio maupun di televisi. Sekelompok umat yang mengatasnamakan Islam dengan mudah mengobrak abrik tempat pedagang kakilima, dikarenakan PKL dianggap tidak menghargai datangnya bulan suci ramadhan karena buka warung makan disiang hari, tanpa mempertimbangkan bagaimana jika ada seseorang yang sakit yang perlu makan, orang hamil dan menyusui yang juga perlu makan, orang lansia yang perlu juga untuk makan dan musafir yang juga memerlukan makan, juga agama lain ditanah air kita ini sangat beragam.

Demikian sebagian kecil hikmah yang terkandung dalam bulan ramadhan, dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung didalamnya yang tidak diketahui oleh penulis karena hanya Allah lah yang maha tahu atas apa-apa yang ada di langit dan di bumi, Allahuakbar.......


25 September 2008

Oleh : Dedy Suyanto

Bulan Ramadhan juga lebih akrab disebut dengan puasa, bulan penuh ampunan, bulan penuh berkah dan juga bulan yang suci.

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (QS.Albaqarah ayat 183)

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar". (QS Alahzab ayat 35)

Yang dimaksud dengan muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Albaqarah ayat 185)

Puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh mukmin kepada Allah swt secara langsung, karena hanya Allah saja yang mengetahui pahala puasa tersebut. Keluarga, teman, tetangga bahkan siapapun orangnya tidak akan mengetahui bahwa seseorang itu sedang berpuasa atau tidak, sebab seseorang juga akan bisa berpura-pura berpuasa sedang dibelakang lahap menikmati hidangan. Puasa juga tidak bisa untuk dipamerkan, berbeda dengan shalat, tadarus, bersedekah, haji dan ibadah lainnya selain puasa semuanya itu dapat dilakukan secara linnas, bukan lillah, walkhasil ibadahnya hanya sebatas mendapat pujian 'wah' dari manusia bukan mendapat keridloan Allah swt, amat disayangkan.

Demikian penting dan urgensinya ibadah puasa ini, sampai-sampai Rasul Mukhammad saw dipanggil langsung menghadap Rab, Allaahuakbar. Sehingga dengan demikian puasa merupakan perintah langsung dari Allah swt tidak melewati jibril as.


21 September 2008

Ramadhan oh Ramadhan

Berbahagialah apabila kita mempunyai hati yang senang ketika memasuki bulan Ramadhan dan sedih ketika akan ditinggalkan Ramadhan karena dengan demikian anda benar-benar menikmati datangnya bulan yang penuh berkah ini. Betapa tidak, setelah 11 bulan berturut-turut kita mengikuti nafsu sehingga lambung kita benar-benar perlu diistirahatkan, demikian pula hati kita selalu mengikuti nafsu, sehingga perlu dibersihkan dan ibadah kita sangat minim sehingga perlu ditingkatkan.
Ramadhan mengingatkan pada kita bahwa hakekatnya hidup di dunia itu hanya sebatas segelas air, sehingga akan membersihkan hati dari keserakahan dunia. Ramadhan juga menyadarkan kembali akan jati diri manusia, bahwa manusia tetap manusia yang wajib taat dan patuh pada Tuhannya. Sikap patuh manusia itu dapat diimplementasikan pada saat berpuasa, ketika Allah swt berkata jangan maka tidak ada satupun mukmin yang berani melanggarnya walaupun sedang dalam keadaan sendiri sekalipun. Di Ramadhan inilah Allah swst menampakkan pada manusia antara muslim dan mukmin, sebab Ramadhan memerlukan keikhlasan hati, yang mana keikhlasan tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang mukmin yang benar-benar takut kepada Allah swt, bukan orang-orang muslim, yang hanya mengaku dirinya Islam.
Ramadhan hanya memerlukan keikhlasan, keimanan dan ketaqwaan. Tidak perlu kita mengkalkulasikan berapa banyak pahala kebaikan yang telah kita lakukan, sebab puasa adalah ibadah langsung manusia pada Tuhannya dan pahala sudah tentu menjadi urusan Allah swt, bukan manusia. Disinilah perlunya keikhlasan, bukan pamrih terhadap apa yang telah di lakukan sehingga apabila Ramadhan telah usai tidak usai juga amal-amal kebajikan yang pernah dilakukan pada saat Ramadhan. Sehingga benar-benar kita menjadi hamba Allah swt yang suci pada saat masuknya bulan syawal ( hari raya aidil fitri ), semoga Allah swt memberkati kita semua dan ditetapkan kita sebagai hamba-hambanya yang tau diri.